Ia menganggapnya gejala mag karena terlalu sering menunda makan. Setelah itu ia mencoba menghubungkannya dengan stres, kurang tidur, atau terlalu banyak kopi. Tubuh selalu punya cara aneh untuk memberontak. Ia membeli obat, mengurangi kafein dan tidur lebih awal. Namun, tidak ada yang berubah. Kalau pun ada, makhluk itu justru tampak semakin betah tinggal di sana.
“Kondisi Anda
baik-baik saja. Tidak ada serangga seperti yang diceritakan,” ucap dokter
terakhir yang ia kunjungi, menunjukkan hasil rontgen di dalam perutnya. Lembaran
film hitam itu bersih. Tidak ada benjolan.Tidak ada kelainan.Tidak ada apa-apa
di sana selain kesunyian yang gagal diterjemahkan. Joan mengangguk, menerima
penjelasan yang tidak menjelaskan apa pun.
Namun, tubuh Joan tidak bisa berbohong. Memasuki bulan
keenam, geliat halus itu terasa semakin kuat. Ia tidak tahu bentuknya. Tidak
tahu ukurannya. Tidak tahu apa yang diinginkannya. Joan hanya tahu, makhluk itu
selalu aktif ketika kesunyian datang.
Joan mulai jarang menyentuh makan malam. Kadang ia hanya
sanggup menghabiskan beberapa suap. Kadang tidak sama sekali.
Di
malam-malam sepi, jika ia meletakkan telapak tangan di atas ulu hati, ia bisa merasakan
ketukan ritmis yang beringas dari dalam. Seperti ada ribuan kepakan yang
mengamuk, menuntut jalan keluar yang tidak pernah ia sediakan.
Ia bingung, takut, dan merasa asing dengan tubuhnya sendiri yang perlahan-lahan merapuh. Malam itu, setelah pulang dari sebuah kedai kopi sehabis menyelesaikan pekerjaan bersama Yuli, rekan kerjanya selama ini, Joan merasa bimbang.
“Apa akhir-akhir kamu pernah bikin orang sakit hati?” tanya Yuli tadi.
Yuli mengangkat bahu. “Entahlah. Kalau dokter sudah angkat tangan, biasanya orang mulai mencari penjelasan lain.”
Joan mengembuskan napas. “Jangan
bilang kamu mau menyuruhku ke dukun.”
“Kenapa tidak?”
“Karena aku masih waras,” jawab Joan. Ia bahkan tak berpikir sejauh
itu. Baginya, takhayul adalah jalan buntu bagi orang-orang yang kehabisan
logika.
Yuli
menghela napas panjang, mengaduk sisa kopinya yang sudah dingin. “Coba kamu ingat.
Tiga bulan lalu, tepatnya saat divisi kita kedatangan manager marketing yang
baru. Apa ada yang berubah dari rutinitasmu?”
Pria itu pertama kali menjabat tangannya di ruang rapat. Ingatan Joan langsung merekam detail yang tidak seharusnya. Telapak tangan Aris yang hangat, aroma samar tembakau dan kopi hitam yang menguar dari kemejanya, serta tatapan matanya yang seolah menelanjangi segala pertahanan Joan.
Mengingat semua itu membuat sesuatu di
dalam perut Joan terbangun. Sensasi hangat menjalar lalu datang geli yang
selama beberapa minggu terakhir menghilang. Sepasang kaki kecil merayap pelan
di balik kulit. Joan menahan napas. “Tidak ada yang berubah,” katanya.
Malam itu, di kamarnya yang sepi, Joan berusaha
mengingat lagi. Ia duduk di tepi ranjang. Ponselnya berada di tangan. Layar
menyala dan foto Aris memenuhi pandangannya. Bukan foto yang sengaja ia simpan.
Hanya gambar yang muncul di percakapan lama.
Aris sedang tersenyum. Senyum biasa, tidak
istimewa. Namun, ada sesuatu dalam cara pria itu memandang kamera yang membuat
Joan sulit mengalihkan mata.
Ia membenci itu. Membenci kenyataan bahwa
dirinya memperhatikan hal-hal semacam itu. Ingatan lain muncul. Kantin kantor,
aroma kopi, nasi goreng yang mulai dingin, Aris yang duduk di hadapannya sambil
bercerita tentang masa kecilnya. Tentang kota kecil tempat ia tumbuh. tentang
ayahnya yang keras, tentang ibunya yang suka menanam bunga. Hal-hal biasa. Sangat
biasa. Namun, Joan masih mengingat semuanya. Terlalu jelas. Seolah percakapan
itu tidak pernah benar-benar selesai.
Tak lama kemudian ponsel Joan
bergetar. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nama. Aris.
“Maaf ganggu malam-malam. Aku cuma mau bilang, presentasimu hari ini luar biasa. Istirahat yang cukup, ya.”
Detik itu juga, perut Joan bergejolak hebat. Ia berdiri tergesa-gesa lalu masuk ke kamar mandi, menyalakan lampu, dan menatap cermin. Ia ingin melihat parasit yang menggerogoti kewarasannya selama ini.
Namun, cermin itu hanya memantulkan seorang wanita dengan pipi yang merona merah, mata yang berbinar basah, dan bibir yang tanpa sadar melengkung membentuk senyuman tipis. Di dalam sana, di balik kulit perutnya yang kencang, ia bisa merasakan kepakan itu melambat, seolah-olah makhluk itu sedang menunggu sesuatu.
Joan membenci pantulan itu. Ia membenci bagaimana perutnya seolah memiliki kehendak sendiri yang tidak sejalan dengan logikanya. Ia berusaha menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam. Namun, namun setiap kali bayangan wajah Aris melintas di kepalanya, sensasi itu meledak lagi.
Ia menyalakan keran air, membiarkan air dingin menghantam kulitnya. Joan membenci bagaimana perutnya seolah memiliki kehendak sendiri yang tidak sejalan dengan logikanya. Ia berusaha menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam. Namun, setiap kali bayangan wajah Aris melintas di kepalanya, sensasi itu meledak lagi.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula, Joan mulai curiga. Mungkin yang tumbuh di dalam dirinya bukan penyakit. Kemungkinan itu jauh lebih mengerikan daripada apa pun yang pernah dikatakan dokter.
***
Di luar jendela, kota masih menyala. Lampu-lampu berpendar
dalam gelap seperti mata serangga yang tidak pernah tidur. Sementara itu, Joan
mematikan keran. Air masih menetes dari dagunya ketika ia mengangkat wajah dan
menatap cermin sekali lagi.
Ia dapat merasakan kepakan itu belum berhenti. Ribuan
sayap kecil bergerak dalam gelap seperti sesuatu yang sedang merayakan
kelahirannya. Joan membenci perasaan itu. Bukan karena sakit,melainkan karena
ia mengenalnya.
Perasaan semacam ini pernah datang bertahun-tahun lalu. Ingatannya
mundur jauh ke belakang, ke lorong-lorong waktu yang sempat tertutup rapat. Tujuh
tahun lalu, Ia teringat pada seseorang, sebut saja pria itu dengan inisial yang
tak ingin ia sebut lagi.
Awalnya
lelaki itu tampak seperti kebanyakan pria baik yang muncul dalam cerita orang
lain. Ia datang dengan kesabaran, perhatian dan kemampuan mendengarkan yang
membuat Joan merasa dihargai.
Tidak banyak orang mampu melakukan itu. Sebagian besar manusia hanya menunggu giliran berbicara. Setidaknya, itulah yang Joan pikirkan waktu itu. Mereka menghabiskan banyak malam bersama.
Berjalan
tanpa tujuan. Duduk di warung kopi sampai larut. Membicarakan masa depan seolah
masa depan adalah tempat yang pasti akan mereka capai.
Pada masa itu, Joan sering merasakan geli aneh di perutnya. Ringan. Menyenangkan. Seperti kupu-kupu yang terbang di antara tulang rusuk.
"Jadilah rumah bagiku," ucap pria itu dulu, sambil jemarinya yang dingin menyisir rambut Joan, lalu turun menelusuri lekuk perutnya dan berbisik, "Rasakan?”
Joan tertawa. “Apa?”
“Kupu-kupunya.”
“Kamu aneh.”
“Aku serius.”
Malam itu Joan menganggap kalimat
tersebut romantis. Bertahun-tahun kemudian, ia menyadari ada kalimat yang
terdengar indah hanya karena racunnya bekerja terlalu lambat. Joan membiarkan kupu-kupu
itu menetas. Ia tidak tahu bahwa yang di tanam lelaki itu bukanlah kupu-kupu,
melainkan ngengat pemakan saripati hidupnya.
Mula-mula pria itu menentukan hal-hal kecil. Baju mana yang boleh dikenakan. Teman mana yang kurang baik. Pekerjaan mana yang tidak perlu diambil. Joan mengira semua itu bentuk perhatian.
Kemudian hal-hal kecil berubah menjadi kebiasaan dan kebiasaan berubah menjadi aturan. Tanpa sadar Joan mulai meminta izin untuk keputusan-keputusan yang seharusnya tidak memerlukan izin siapa pun.
Pria itu selalu punya alasan. Selalu terdengar masuk akal. Selalu berhasil membuat Joan merasa bersalah karena mempertanyakan sesuatu.
Jika Joan marah, pria itu menyebutnya sensitif. Jika Joan curiga, pria itu menyebutnya paranoid. Jika Joan terluka, pria itu mengatakan ia terlalu banyak berpikir. Lama-kelamaan Joan mulai meragukan dirinya sendiri. Ia berhenti mempercayai instingnya. Berhenti mempercayai kemarahannya. Berhenti mempercayai rasa sakitnya. Sialnya, ketika seseorang tidak lagi mempercayai dirinya sendiri, ia akan mempercayai siapa pun yang berbicara paling keras.
Akhirnya hubungan itu berakhir lewat sebuah
pengkhiatan. Pria itu diam-diam juga sedang merawat kupu-kupu di perut wanita
lain. Joan tidak menangis. Setidaknya, tidak pada hari pertama. Ia hanya duduk
sendirian di lantai kamar. Melihat lemari yang sebagian telah kosong. Mendengar
dengung kulkas. Menghitung suara kendaraan yang lewat di luar jendela.
untuk pertama kalinya setelah
bertahun-tahun, ia merasa tidak ada siapa pun yang mengawasinya. Perasaan itu
seharusnya melegakan. Namun yang datang justru kekosongan. Kekosongan yang
begitu besar sampai terasa seperti ruangan lain di dalam dadanya. Butuh waktu
lama untuk keluar dari sana.
Sejak saat itu Joan membuat satu
aturan sederhana. Jangan pernah memberi seseorang kesempatan untuk tinggal
terlalu lama. Karena semua penghuni pada akhirnya akan berubah menjadi
perampok.
Tahun-tahun berikutnya berjalan
tenang. Joan bekerja. Menikmati kesendiriannya dengan jalan-jalan. Makan
sepuasnya. Tidur. Mengulangi semuanya lagi keesokan hari. Ia membangun hidup
yang rapi. Tidak ada kejutan. Tidak ada risiko. Tidak ada cinta. Baginya logika
adalah vaksin. Satu-satunya perlindungan yang tidak akan mengkhianatinya dan
selama bertahun-tahun itu berhasil.
Sampai Aris datang. Perut Joan kembali
bergerak. Ia tersentak. Ini bukan gangguan pencernaan.
Tubuhnya sedang mengingat. Aris hanyalah
awalnya. Sama seperti dulu. Kebaikan, perhatian,
kopi hangat, tatapan lembut, semua selalu
dimulai dari sana. Semua selalu tampak aman sebelum berubah menjadi bencana.
"Aku tahu apa kau sebenarnya,"
bisiknya.
Makhluk-makhluk itu terus bergerak seolah
mendengar.
"Aku tidak akan membiarkanmu
tumbuh." Kali ini Joan tidak lagi mencari obat. Ia memilih musuh dan musuh
itu bernama harapan.
***
Keesokan
harinya, Joan sengaja berbeda. Ia mengubah dirinya menjadi benteng yang tidak
bisa ditembus. Saat Aris menghampiri mejanya, dengan senyum yang sama, aroma
kopi yang sama, dan tatapan tulus yang selalu berhasil memicu geliat di
perutnya, Joan tidak menghindar. Ia berdiri tegak. Ia membangun tembok
pertahanan di sekeliling hatinya.
“Joan, kamu mau makan siang bareng?” tanya Aris.
Joan menatap Aris, lalu menatap perutnya sendiri yang kini bergejolak hebat, seolah-olah ribuan kepakan sayap sedang mengamuk, memohon untuk dibiarkan terbang bebas. Joan tahu, jika ia mengiyakan, makhluk itu akan tumbuh makin besar. Ia akan menjadi inang lagi. Ia akan kalah lagi.
“Tidak,” jawab Joan, suaranya dingin, datar, tanpa getar. “Dan tolong, berhenti bersikap seolah kita punya hubungan istimewa. Aku tidak butuh teman, aku tidak butuh kolega yang peduli, dan aku tidak butuh tatapan kasihanmu.”
Aris tertegun. Senyumnya pudar. “Joan, ada apa? Aku hanya…”
"Berhenti menatapku seperti itu!" ucap Joan, suaranya parau karena menahan mual yang luar biasa. Perutnya bergejolak hebat, seolah makhluk di dalamnya sedang mencakar-cakar dinding lambung, menuntut untuk dibebaskan.
Aris terdiam, matanya menatap Joan dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kebingungan dan sesuatu yang lembut. "Joan, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."
"Aku tidak butuh perhatianmu. Aku tidak butuh apa pun darimu," ucap Joan dingin.
Joan melihat kilatan luka di mata Aris. Pria itu terdiam lama, lalu mengangguk kecil. “Aku mengerti,” ucapnya pelan, lalu berbalik pergi.
Minggu-minggu berlalu dalam perang sunyi. Setiap kali Aris mendekat, Joan memastikan ada jarak fisik yang aman. Jika Aris menyapanya di pagi hari, Joan hanya membalas dengan anggukan kaku tanpa menatap matanya. Jika Aris menawarkan kopi, Joan menolak dengan alasan sedang diet kafein. Ia membalas setiap pesan teks yang bernada personal dengan jawaban satu kata yang klinis: Baik. Sudah. Terima kasih.
Joan melihat bagaimana cahaya di mata Aris perlahan meredup. Pria itu tidak marah. Ia tidak memaksa, tidak mendesak, dan tidak pernah mencoba melanggar batas yang Joan bangun. Justru itulah yang membuat pertahanan Joan semakin tebal.
Hingga pada suatu sore di penghujung bulan, hujan turun mengguyur kota. Kantor sudah sepi. Joan sedang membereskan tasnya ketika Aris muncul di ambang pintu ruangannya.
Pria itu tidak membawa senyum hangatnya yang biasa. Matanya terlihat lelah. Aris meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja Joan. Surat pemindahan divisi.
Hingga pada suatu sore di penghujung bulan, hujan turun mengguyur kota, menyamarkan suara hiruk-pikuk lalu lintas di luar jendela kantor. Ruangan sudah sepi. Joan sedang membereskan tasnya ketika Aris muncul di ambang pintu.
Pria itu
tidak membawa senyum hangatnya yang biasa. Postur tubuhnya terlihat lelah, seperti
memikul beban yang berat.
"Joan,"
suara Aris terdengar pelan, nyaris tenggelam oleh ketukan hujan di kaca.
"Aku tidak tahu apa yang pernah kulakukan sampai membuatmu seperti ini.
Tapi... aku rasa sudah membuatmu tidak nyaman."
Joan
menatapnya. Logikanya mengambil alih. "Kita hanya rekan kerja, Aris. Aku
lebih suka menjaga hubungan kita tetap profesional. Tidak lebih."
Aris
menatap Joan lama. Tidak ada amarah di sana. Hanya ada kesedihan yang dalam dan
pemahaman yang menyakitkan. Ia mengangguk pelan.
"Aku
mengerti," ucap Aris. Suaranya parau. "Maaf jika kehadiranku menjadi
beban. Aku tidak akan mengganggumu lagi."
Tanpa
menunggu balasan, Aris berbalik dan melangkah pergi. Suara langkah kakinya
menjauh, menyatu dengan deru hujan, hingga akhirnya hilang sepenuhnya di ujung
lorong.
Saat
itulah, hal itu terjadi. Di dalam perut Joan, kepakan beringas yang selama tiga
bulan menyiksanya tiba-tiba terhenti. Tidak ada ledakan. Tidak ada rasa sakit
yang melukai. Joan bisa merasakan ribuan sayap halus itu mengepak untuk
terakhir kalinya, lemah dan putus asa. Mereka tidak lagi membentur dinding
perutnya menuntut perhatian.
Joan
berdiri kaku di tengah ruangan yang remang-remang. Ia meletakkan tangan di atas
perutnya. Datar. Tenang. Kosong. Parasit itu sudah pergi. Ia telah sembuh. Ia
aman. Tidak ada pria yang akan mengaturnya. Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada
ngengat yang akan memakan saripati hidupnya.
Namun,
ketika Joan mencoba menarik napas panjang untuk merayakan kemenangannya,
dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang jauh lebih berat daripada ribuan
serangga. Ada lubang menganga di rongga dadanya, sebuah kehampaan yang menyedot
seluruh udara di sekitarnya.
Joan
menatap pintu yang tadi dilewati Aris. Untuk pertama kalinya sejak tujuh tahun
lalu, logikanya tidak bisa menjelaskan mengapa air mata tiba-tiba menetes dari
matanya, jatuh membasahi meja kerja. [ ]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar