Ia makan dalam diam. Tidak bilang enak. Tidak bilang apa-apa. Yang ada hanya suara sendok menyentuh piring, suara kunyahannya yang terlalu keras dan matanya yang beberapa kali melirikku seperti sedang mengukur sesuatu. Aku tahu tatapan itu. Aku sudah bertahun-tahun menerima tatapan itu, dan selama itu aku hanya berpura-pura tidak mengerti.
Setelah makan, aku cuci piring. Wasis duduk di ruang tamu, menonton televisi yang suaranya tidak pernah benar-benar ia dengarkan. Aku kerjakan semuanya sendiri. Lap meja. Buang sampah. Bersihkan lantai. Sampai air terakhir yang kutuangkan ke selokan, sampai busa sabun terakhir yang kubilas, sampai tanganku yang berbau kunyit dan bawang itu kubersihkan dengan lap dapur yang sudah kumal.
Lalu aku masuk kamar. Wasis sudah di tempat tidur. Lampu sudah dimatikan. Hanya cahaya bulan yang masuk dari lubang angin jendela, jatuh ke lantai, ke dinding, ke tubuhku yang baru selesai bekerja. Aku ganti baju. Baju tidur yang dulu pernah ia bilang cantik tapi sudah lama tidak pernah lagi ia ucapkan.
Aku masuk ke bawah selimut. Wasis menyentuhku. Tangannya dingin, seperti biasa. Ia merangkul pinggangku dari belakang, mendekatkan tubuhnya dan aku diam. Bukan karena aku mau. Tapi karena istri yang menolak suami di tempat tidur adalah istri yang besok paginya akan diceramahi. Itu yang aku pelajari dari perempuan-perempuan kampung yang lebih tua dariku.
"Turuti saja, Las. Nanti juga selesai."
Tapi malam itu, Wasis berhenti. Tangannya masih di pinggangku, tapi tidak bergerak. Dan aku mendengar ia menarik napas, pelan, seperti orang yang sedang menimbang sesuatu.
"Laras," katanya. Suaranya rendah. Dingin.
"Kenapa?"
"Tubuhmu bau bawang." Setelah mengatakannya, ia langsung menarik tangannya dari pinggangku.
Aku tidak menjawab. Tidak bergerak. Berdiam di tempat tidur, di sebelah laki-laki yang tubuhnya terasa seperti kayu, yang kata-katanya lebih dingin dari angin yang masuk dari jendela. Di kepalaku, tiga kata itu seperti rekaman yang diputar berulang-ulang. Bau bawang. Bau bawang. Bau bawang. Aku tahu dia benar. Aku memang bau bawang. Aku memang bau kunyit. Aku memang bau dapur dan ia tidak pernah tahu bahwa bau itu adalah satu-satunya hal yang bisa kuberikan.
Ia akhirnya memunggungiku. Menarik selimut sampai ke dada. Sementara itu, aku berbaring di belakang punggungnya, menatap langit-langit yang gelap, menelan ludah yang rasanya seperti pecahan kaca.
Aku hanya berbaring, memejamkan mata, dan membiarkan punggung Wasis yang makin lama makin berat oleh dengkuran menjadi satu-satunya bukti bahwa ia masih ada di sebelahku. Kadang aku membuka mata, menatap jam dinding yang jarumnya berdetak terlalu keras untuk ukuran jam yang sudah tua, dan menghitung berapa lama sampai subuh. Lalu aku pejamkan lagi. Lalu aku buka lagi. Lalu memejamkannya lagi.
***
Bau bawang adalah bau yang aku pilih untuk menjadi perempuan. Bau itu bukan kesalahan. Tapi laki-laki yang tidak pernah memasak, yang tidak pernah menanak nasi, yang tidak pernah tahu bahwa bawang harus ditumis sampai harum baru bisa dibuang, tidak akan pernah mengerti bahwa bau itu adalah bukti bahwa aku pernah ada di dapur, pernah memasak, pernah memberi. Baginya, semua itu tidak pernah cukup.
Akhirnya aku mengalah tanpa rasa bersalah. Aku diam seperti caranya diam. Uang belanja tiga bulan terakhir yang belum ia berikan pun aku biarkan. Seperti biasa, aku tetap bangun lebih dulu untuk mengerjakan tugas-tugas di rumah. Membangunkan Danang anak kami, menyuapinya sarapan, membereskan dapur, mengelap meja yang baru saja kami makan, dan melakukan semuanya dengan tangan yang sama, dengan urutan yang sama, dengan gerakan yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
Tak lama kemudian, suamiku bangun, mandi, makan, pamit, pergi. Ia mencium kening Danang saat di pintu, tapi tidak mencium keningku. Padahal aku berdiri di situ. Jika aku membiarkannya pergi tanpa satu pun kata yang keluar dari mulutku dan membiarkannya berlalu begitu saja, bukan berarti aku memaafkannya, tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk melawan laki-laki yang tidak tahu bahwa ia sedang menyakiti.
Anak kami, ia sudah tujuh tahun. Sudah tahu bahwa meja makan di rumah ini hanya memiliki dua kursi yang terisi, meskipun kursi ketiga sudah lama tidak diambil lagi dari gudang. Sudah tahu bahwa ayahnya pulang seminggu sekali, membawa oleh-oleh yang dibungkus plastik, dan meletakkannya di meja tanpa mengatakan dari siapa dan untuk siapa. Ia juga selalu tahu ibunya akan selalu berdiri di depan kompor setiap pagi, selalu mencuci piring setiap malam, selalu tidur paling akhir dan bangun paling awal, dan melakukan semua itu tanpa mengeluh.
Danang tidak bertanya tentang ayahnya. Belum. Namun, aku melihat cara ia menatap punggung ayahnya ketika berjalan menuju pagar halaman rumah. Ada sesuatu di mata anak itu yang terlalu dewasa untuk usianya, sesuatu yang aku tahu suatu saat ia akan memberiku pertanyaan yang tidak bisa aku jawab dengan bohong.
Pagi itu, setelah suamiku pergi, Danang duduk di kursi goyang di beranda, menontonku bekerja, dan tidak berkata apa-apa. Aku tahu ia menunggu. Menunggu ibunya berhenti sejenak, duduk di sebelahnya, mengelus kepalanya. Namun, aku tidak berhenti.karena jika aku duduk di sebelah Danang dan menatap wajahnya, aku bisa menangis. Aku tidak mau anak itu melihat ibunya menangis lagi.
Setelah rumah selesai, aku duduk di beranda. Menarik napas sedalam-dalamnya lalu menepuk pangkuanku dan bilang, "Sini, Nak." Danang pun segera naik ke pangkuanku, menaruh kepalanya di dadaku, dan diam. Kami duduk seperti itu cukup lama, mendengarkan suara burung yang mulai ramai, suara angin yang menyentuh dedaunan, suara rumah yang terlalu sepi untuk keluarga yang masih lengkap di atas kertas.
"Nak," kataku akhirnya, memecah keheningan yang sudah terlalu tebal. "Kalau ibu cerita sesuatu, mau dengar?"
Danang mengangkat kepalanya, menatapku. Matanya terlalu besar untuk wajahnya, terlalu penuh pertanyaan untuk anak seusianya. Tapi ia mengangguk. Pelan. Yakin. Seperti anak yang sudah tahu bahwa ibunya akan menceritakan sesuatu yang berat, dan memutuskan untuk mendengarkannya meskipun ia belum siap.
Aku menelan ludah. Tanganku mengelus rambut Danang yang masih halus, masih harum seperti anak kecil dan belum berbau apa pun selain bau tubuhnya sendiri. Dan aku mulai bicara. Tidak tentang bau bawang atau tangan yang kapalan atau tentang ayahnya. Aku bicara tentang hal yang lebih kecil, yang lebih jujur, yang selama ini aku simpan sendiri.
"Nak, ibu capek."
Dua kata. Tidak lebih tapi cukup untuk membuat Danang menatapku lebih lama dan cukup untuk membuatku akhirnya menangis. Tangis yang tidak bersuara, hanya membasahi pipi dan jatuh ke rambut anak yang masih memelukku. Danang tidak bertanya kenapa. Hanya memelukku lebih erat dan berkata dengan suara yang terlalu kecil untuk anak tujuh tahun.
"Ibu jangan capek. Nanti aku yang capek."
Aku tertawa dan ia tersenyum tipis, dan untuk pertama kalinya aku merasa bahwa ada satu hal di dunia ini yang masih utuh, yang masih milikku.
Sore itu, aku memasak lagi. Nasi, sayur lodeh, telur balado. Bawang yang aku iris tipis-tipis, kunyit yang aku parut, tangan yang kapalan karena sudah bertahun-tahun menggenggam dapur yang bukan milikku. Danang duduk di meja makan, menontonku bekerja, dan untuk pertama kalinya, ia bertanya.
"Bu, kenapa ibu selalu masak?"
Aku berhenti sejenak. Tanganku yang sedang menggenggam wajan tidak bergerak. Aku menoleh ke Danang dan melihat matanya yang menunggu jawaban.
"Karena ibu hanya tahu cara begitu, Nak. Ibu tidak pernah belajar yang lain."
Danang diam. Lalu bertanya lagi, dengan suara yang lebih pelan, "Nanti kalau aku besar, aku yang masak. Ibu tinggal duduk."
Aku tersenyum. Kali ini benar-benar tersenyum.
***
Malam itu, setelah Danang tertidur, sebelum aku sempat mencium pergelangan tanganku lebih lama, aku mendengar suara pintu pagar dibuka. Pelan, seperti orang yang tidak ingin diketahui kehadirannya. Ketika langkah kaki itu masuk, aku sudah bisa mengenalinya.
Aku memilih diam. Kubiarkan ia masuk sendiri tanpa harus memikirkan alasan bertanya kenapa aku belum tidur. Aku hanya duduk di kursi goyang, membiarkan cahaya bulan menyentuh kulitku, membiarkan bau kunyit dan bawang yang masih menempel menjadi satu-satunya hal yang kurasakan.
Langkah kakinya berhenti di depan pintu kamar. Tidak masuk. Hanya berdiri di situ, seperti orang yang sedang menimbang apakah akan tidur di dalam atau tidur di ruang tamu atau tidur di mana pun selain di sebelahku. Lalu aku mendengar suara pintu ruang tamu dibuka, sofa diduduki dengan berat dan kemudian hening.
Aku masuk ke dalam. Berjalan pelan melewati ruang tamu. Saat itulah aku mencium wangi yang lebih lembut, lebih mahal, lebih perempuan. Wangi yang menempel di kerah kemejanya dan tidak akan menempel kalau tidak ada tubuh lain yang menyentuhnya.
Aku berhenti di ambang pintu ruang tamu. Wasis duduk di sofa, matanya terpejam, tidak menyadari aku berdiri di situ. Aku menatap wajahnya yang sama kerasnya, yang sama dinginnya, yang sudah puluhan tahun tidak pernah lagi membuatku merasa aman. Dan aku mencium lagi, lebih pelan, lebih dalam. Wangi itu. Wangi perempuan lain. Wangi yang tidak pernah menjadi bagian dari rumah ini.
Saat itulah aku menyadari sesuatu yang lebih kejam dari bau bawang yang selalu menempel di tubuhku. Bau bawang yang terasa lebih jujur dari wangi yang menempel di tubuhnya. Aku tidak membangunkannya. Tidak juga bertanya. Tidak menuduh. Aku hanya berdiri di ambang pintu, menatap wajahnya yang tertidur dengan damai.
***
Paginya, suamiku bangun. Ia terburu-buru untuk mandi, tidak sarapan, pamit dan pergi. Tidak mencium kening Danang. Tidak menoleh ke belakang. Aku berdiri di pintu dan tidak membiarkannya pergi begitu saja.
"Wasis," kataku. Ia berhenti tapi tidak menoleh.
"Besok," kataku, "kalau kamu pulang, jangan tidur di tempat tidurku. Tidur di ruang tamu saja. Bersihkan dulu bau di tubuhmu."
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, aku melihat punggungnya bergetar sedikit. Tidak banyak. Hanya sedikit. Cukup untuk membuatku tahu bahwa ia mengerti. Cukup untuk membuatku tahu bahwa bau bawang yang selalu ia hina, akhirnya lebih jujur dari seluruh kata-kata yang pernah ia ucapkan.
Aku berdiri di pintu lebih lama. Menatap punggungnya yang berjalan ke pagar, menghilang di tikungan tanpa menoleh. Baru setelah tubuhnya benar-benar tidak terlihat, aku bicara kepada diri sendiri.
"Sebaiknya jangan pernah pulang atau aku akan pergi." [ ]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar