Sore itu menggenapi kejujuran yang menyedihkan. Di sebuah dermaga tua, sesudah hujan turun, ia mulai bercerita. Aku pun mulai berpikir mungkin tak ada lagi masa depan yang menunggu. Tidak akan ada rambut memutih bersama di satu ranjang yang hangat. Tidak ada cangkir kopi yang disiapkan oleh tangan yang sama.
Hujan datang tidak terlalu deras, hanya cukup untuk memaksa
orang-orang yang hendak menyeberang menunda langkah dan berdesakan di bawah
atap warung teh yang miring. Papan-papan dermaga yang tua mengilap oleh air.
Bau kayu basah bercampur asin laut dan uap teh yang mengepul
dari gelas-gelas tipis. Di kejauhan, perahu-perahu kecil bergoyang pelan. Ia duduk di
hadapanku, merapatkan kedua telapak tangannya pada gelas, seolah dari sanalah
sedikit hangat bisa dipinjam untuk menahan sesuatu yang lebih dingin di dalam
dirinya.
Sudah berkali-kali aku mengantar dan menunggunya di dermaga
itu. Selalu dengan tas yang sama, langkah yang nyaris sama, dan alasan yang
juga terdengar sama. Ia selalu beralasan ingin menemui kerabat di
seberang.
Aku tidak pernah sungguh-sungguh bertanya. Ada jenis
kedekatan tertentu yang membuat seseorang merasa berhak berharap, padahal tak
cukup berani untuk tahu. Aku barangkali terlalu lama hidup dari isyarat-isyarat
kecil. Cara ia menungguku menyalakan motor, cara ia menerima teh tanpa menolak,
cara ia menoleh sebelum naik ke perahu. Hal-hal remeh semacam itu, di tangan
orang yang kesepian, bisa tumbuh menjadi keyakinan yang utuh.
Ia tidak langsung bercerita. Mula-mula hanya memandang hujan
yang turun miring ke laut, lalu memandang gelasnya sendiri, seolah sedang
menimbang dari mana sebuah cerita harus mulai dibuka. Wajahnya tampak lebih
pucat dari biasanya. Ada letih yang tidak disebabkan oleh perjalanan.
Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi lidahku terasa kelu. Maka kami hanya duduk, mendengarkan
sendok kecil beradu pelan dengan dinding gelas dari meja sebelah, suara mesin
perahu yang sesekali batuk, dan air yang menetes dari ujung seng dengan ketekunan yang nyaris menyedihkan.
"Laut selalu membuat orang tampak lebih jujur,
ya," katanya pelan, tanpa menatapku.
Aku tersenyum samar, meski tidak tahu harus mengiyakan apa.
Mungkin karena sejak lama aku terbiasa menerima kalimat-kalimatnya tanpa
menuntut penjelasan. Mungkin juga karena aku takut, bila terlalu banyak
bertanya, sesuatu yang selama ini kutata diam-diam akan runtuh seketika.
Ia mengangkat gelasnya, menyesap sedikit teh yang barangkali
sudah terlalu hangat untuk disebut panas. "Setelah ini, mungkin kamu tidak
ingin lagi menunggu atau mengantarku ke sini," katanya kemudian.
Begitu saja. Datar. Hampir tanpa suara. Namun, kalimat itu
jatuh di hadapanku seperti sesuatu yang patah.
Aku tidak segera bertanya. Di luar, hujan masih turun tipis.
Seorang anak kecil berlari sambil menenteng sandal, lalu hilang di balik
tumpukan jeriken di samping warung. Seorang lelaki tua memanggul karung dan
memaki langit yang tak juga bersih. Segala sesuatu bergerak seperti biasa,
hanya dadaku yang mendadak terasa sesak.
"Di seberang," lanjutnya, "ada seseorang yang juga selalu menungguku. Bukan seperti yang selama ini aku ceritakan."
Ia berhenti sebentar. Matanya tidak berkedip. Bukan mata
orang yang hendak mengaku demi melegakan diri, melainkan mata seseorang yang
sudah terlalu lama hidup bersama satu kesedihan, sampai kesedihan itu menjadi
bagian dari caranya bernapas.
"Dulu, sebelum kamu mengenalku, aku sudah mencintai
seseorang. Mungkin lebih tepat kalau kukatakan, aku masih mencintainya, hanya
bentuknya sudah tidak lagi sama."
Gerimis makin tipis. Laut di ujung sana tampak kusam,
seperti lembar seng yang terlalu lama disimpan di udara asin. Aku menunggu ia
melanjutkan, sementara perasaanku sendiri perlahan berubah menjadi sesuatu yang
sulit kuberi nama.
“Dia lelaki baik,” katanya.
Entah mengapa, pengakuan itu terasa lebih berat. Aku
menatapnya, mungkin terlalu lama. Ia menunduk, memutar gelasnya pelan di atas
meja. “Aku tidak pernah bermaksud ingin membohongimu.”
“Kenapa tidak sejak awal kamu ceritakan?” Hanya pertanyaan itu yang bisa keluar dari mulutku. Itu pun suaraku tidak
meninggi. Hanya terdengar lelah, seperti suara orang kalah.
Warung itu mendadak terasa sempit. Penjual teh menuang air panas ke gelas lain. Uap naik, lalu lenyap.
“Aku tidak mengira kamu merencanakan banyak hal untuk kita. Saat itulah aku merasa kamu harus
mengetahui yang sebenarnya.”
Aku hanya bisa menarik napas lalu menghembuskan hingga mengeluarkan
suara. Lantas bagaimana dengan lelaki itu?”
“Aku mengenalnya ketika hidupku sedang berantakan,” katanya.
“Waktu itu aku datang ke pulau seberang hanya untuk menjauh dari rumah. Ibuku
baru meninggal. Ayahku sibuk mabuk dan berutang. Aku tak punya rencana selain
keinginan untuk tidak pulang.”
Ia tersenyum kecil, getir. “Dia yang pertama kali memberiku
tempat tidur tanpa banyak tanya. Mengajakku makan meski berasnya tinggal
sedikit. Mengajariku membaca pasang-surut, menanam cabai di tanah berpasir,
memperbaiki jaring yang sobek. Dari hal-hal kecil semacam itu justru mengembalikan tujuan hidupku.”
Aku mendengarkan dan untuk pertama kalinya mengerti bahwa
ada nama-nama tertentu yang tak tinggal di hati seseorang sebagai kenangan,
melainkan sebagai rangka tempat seluruh hidupnya pernah disusun.
“Rumah kecil di seberang itu,” katanya, “mula-mula bukan
rumah kami. Itu hanya bangunan reyot yang ia pinjamkan padaku agar aku tak
perlu tidur di gudang perahu. Tapi di situlah aku belajar hidup lagi. Belajar
bangun pagi tanpa merasa dunia terlalu berat. Belajar memasak untuk dua orang.
Belajar tertawa tanpa merasa bersalah.”
Ia menatap laut. Senyumnya tipis sekali. “Setelah itu kami saling mencintai. Mungkin itu memang tak terhindarkan. Kalau seseorang tinggal cukup lama di dekat luka dan pemulihanmu, kau akan sulit membedakan mana rasa terima kasih, mana rasa aman, dan mana cinta.”
“Lalu kenapa kamu pergi?” tanyaku.
“Karena pada satu titik aku takut seluruh hidupku hanya akan menjadi perpanjangan dari hidupnya.” Ia menjawab tanpa ragu, seolah kalimat itu telah lama ia hafal karena terlalu sering diadili di dalam kepalanya sendiri.
“Dia baik, tapi kebaikan yang terlalu besar kadang membuat seseorang lupa membangun kakinya sendiri. Aku merasa dirawat, ditopang, dijaga. Tapi juga merasa pelan-pelan menjadi orang yang hidup bukan karena pilihanku sendiri.” Ia menunduk sebentar. “Jadi aku beralasan pergi ke kota untuk bekerja.”
Aku mengangguk pelan, meski aku belum tahu aku sedang
memahami atau hanya berusaha tampak tenang.
“Aku pikir setelah pergi, semuanya selesai,” katanya.
“Ternyata tidak. Ada orang-orang yang bisa kita tinggalkan rumahnya, tubuhnya,
kebiasaannya. Tapi kita tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan kenyataan
bahwa sebagian diri kita dibentuk oleh tangan mereka.”
Warung semakin sepi. Penjual teh menyusun piring-piring
kotor dengan bunyi yang tertahan. Dari luar, bau laut masuk bersama angin
petang. Aku merasa ada sesuatu di dadaku yang pelan-pelan surut, memperlihatkan
dasar yang selama ini tak ingin kulihat.
“Beberapa bulan setelah aku di kota, aku bertemu denganmu,”
katanya. Ia menoleh. Dalam tatapannya ada sesuatu yang membuatku berharap
sekaligus gentar.
“Aku menyayangimu.”
Kalimat itu membuatku lebih nyaman dari sebelumnya.
“Aku menyayangimu,” ulangnya, lebih pelan. “Barangkali justru karena itu aku harus jujur sekarang.”
“Kalau kau menyayangiku, kenapa kau selalu menyeberang?”
tanyaku. Aku tidak tahu dari mana datangnya ketenangan dalam suaraku. Mungkin
dari bagian hati yang terlalu lelah untuk kecewa.
Ia memandang ke luar. Gerimis telah habis yang tersisa hanya
tetes-tetes air dari bibir seng. “Karena di seberang sana,” katanya, “bukan
hanya ada seorang lelaki yang pernah kucintai. Ada orang yang ikut merawat
hidupku sampai aku menjadi diriku yang sekarang. Ada seseorang yang pernah
memungut bagian-bagian diriku yang tercecer, lalu menolongku menyusunnya lagi
satu per satu.”
Ia mengusap embun di dinding gelas dengan ibu jarinya.
“Mungkin aku tidak lagi pulang kepadanya sebagai perempuan yang sama. Mungkin
cinta kami juga tidak lagi seperti dulu. Tapi aku tidak bisa hidup tenang kalau
harus berpura-pura bahwa aku tumbuh sendirian.”
Aku diam.
“Aku datang ke sana bukan untuk menyerahkan hidupku
kembali,” lanjutnya. “Aku datang karena ada sejarah yang harus kuhadapi dengan
kepala tegak. Ada rasa terima kasih yang tak bisa kubiarkan membusuk menjadi
pengingkaran. Ada bagian dari diriku yang hanya bisa kupahami kalau aku berani
menatap kembali tangan yang dulu merawatnya.”
“Dan aku?” tanyaku, pelan sekali.
Ia menatapku lama, seolah sedang mencari kalimat agar tidak
melukai.
“Kamu adalah kemungkinan hidup yang baik,” katanya. “Tapi
aku tak ingin datang kepadamu sambil menyangkal tangan-tangan yang dulu ikut
membangun hidupku. Kalau aku melakukan itu, aku akan menyayangimu dengan cara
yang pincang. Kamu tidak pantas menerima sisa-sisa dari seseorang yang belum
selesai berdamai dengan asal-usulnya sendiri.”
Di luar, suara awak perahu memanggil penumpang terdengar
seperti sesuatu yang telah diputuskan jauh sebelum kami tiba di warung itu.
Ia berdiri. Aku ikut berdiri. Kami berjalan ke ujung dermaga
tanpa berkata-kata. Kayu tua berderit pelan di bawah langkah kami, seperti
mengingat sesuatu yang terlalu lama dipendam air asin. Laut di bawahnya tampak
gelap dan sabar, seperti makhluk tua yang telah lama belajar menelan rahasia
manusia tanpa pernah membocorkannya kembali.
Sebelum naik, ia menatapku. Senja jatuh di wajahnya, membuat
matanya tampak lebih dalam daripada biasanya.
“Aku memang menyayangimu,” katanya. “Jika setelah ini kamu kecewa dan ingin pergi, lakukanlah."
Ia mengulurkan tasnya. Aku menerimanya, lalu menyerahkannya kembali
saat ia sudah berdiri di bibir perahu. Jemari kami bersentuhan sebentar. Hangat,
ringan, lalu lepas begitu saja.
Mesin perahu menderu pelan. Tali tambat dilepas, lalu pelan-pelan menjauh dari
dermaga. Aku berdiri di sana, memandangi perempuan yang menyayangiku dengan
jujur, tetapi tetap pergi ke seberang.
Ia sempat menoleh sekali. Hanya sekali. Cukup untuk
membuatku mengerti bahwa rasa sayang tidak selalu datang untuk tinggal. Setelah
perahu itu mengecil di kejauhan, aku kembali ke warung. Kursi yang tadi
didudukinya masih menyimpan hangat yang samar. Gelasnya masih di meja, dengan teh
yang tak lagi beruap dan bekas bibir yang tertinggal.
Di luar, laut pelan-pelan menelan garis senja. Dermaga tua
itu kembali menjadi kayu basah, tali tambat, dan bunyi air yang memukul
tiang-tiangnya dengan sabar. Segala sesuatu tampak kembali biasa, seolah tak
ada yang barusan retak.
Lalu penjual warung datang, mengangkat gelas itu, dan membuang
sisa tehnya ke sela-sela papan. Air teh itu lebur bersama asin laut, seolah menghilangkan
jejak hangat kedua telapak tangannya.
Saat itulah aku teringat kalimat terakhir yang ia ucapkan
sebelum naik ke perahu. Pelan sekali, nyaris tenggelam oleh deru mesin.
“Kamu pasti kecewa dan berat menerimanya," ia memandangku seperti mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. "Minggu depan aku akan kembali ke kota seperti biasa. Apakah kamu masih akan menungguku?” [ ]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar