LITERASI - karamunting.com

Setiap Kali, Seperti Pertama Kali

👤

Admin

Juli 11, 2026

Cerpen Harie Insani Putra Setiap Kali, Seperti Pertama Kali

Ia selalu bilang, mencatat adalah cara paling jujur untuk mencintai. Aku mengenalnya pada satu musim yang basah, ketika hujan turun tanpa jeda selama dua belas hari. Namanya Ranti. Orang-orang menjulukinya dengan berbagai macam sebutan. Ada yang kagum, jijik, ada pula yang takut. Namun,  semua sepakat pada satu hal, Ranti adalah perempuan yang tidak bisa terlalu lama memiliki kekasih.

Ada yang bilang ia terlalu cantik untuk setia. Ada yang bilang ia terkutuk. Ada pula yang bilang, dengan suara direndahkan seperti sedang membicarakan aib seseorang, bahwa laki-laki yang dekat dengannya selalu berakhir buruk. Hilang. Pindah tanpa pamit atau mati dengan cara yang tidak masuk akal.

Aku tidak percaya pada gosip. Aku percaya pada mataku sendiri. Maka aku datang.

Rumahnya di ujung gang, terpisah dari rumah-rumah lain oleh sepetak kebun singkong yang tak terurus. Cat temboknya sudah mengelupas, memperlihatkan bata yang basah oleh lumut.

Aku berhenti di depan pintu dan sesuatu yang aneh menjalar di tengkukku. Rumah ini terasa tidak asing padahal belum pernah ke sini. Kuabaikan perasaan itu. Aku sudah terlalu banyak mendengar tentang rumah ini. Wajar kalau terasa akrab, pikirku.

Ia membuka pintu sebelum aku sempat mengetuk untuk kedua kalinya.

"Kau yang sering bertanya-tanya tentang aku itu, ya?" katanya. Bukan pertanyaan. Ia sudah tahu.

Aku tergagap. "Aku hanya..."

"Masuklah. Aku sedang membuat teh."

Aku ingin berkata kalau aku tidak minum teh. Entah kenapa kalimat itu muncul di kepalaku, yakin sekali, tapi ketika kulihat wajahnya, aku lupa apa yang ingin kukatakan. Aku hanya mengangguk dan masuk.

Rumah itu kecil. Ruang tamunya nyaris kosong, hanya ada satu meja, dua kursi rotan, sebuah lemari tua yang pintunya tak bisa menutup rapat. Tidak ada foto. Tidak ada hiasan. Seolah ia tinggal di sana hanya untuk sementara.

Aku duduk. Ia menuang teh ke dalam cangkir. Tangannya, ketika menyentuh tanganku saat menyerahkan cangkir, terasa dingin. Dingin yang aneh, seperti tangan orang yang baru saja mencuci di sumur pada pagi buta.

"Kau tidak takut?" tanyanya, duduk di seberangku.

"Takut apa?"

"Semua orang takut padaku." Ia tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Tapi mereka tetap datang. Lucu, ya. Manusia selalu mendekati apa yang membuat mereka ngeri."

Aku tidak menjawab. Aku menyeruput teh. Rasanya pahit dan pahit itu, entah bagaimana, terasa seperti rasa yang sudah lama kukenal. Bukan pahit yang asing. Pahit yang menunggu. Seperti nama seseorang yang berada di ujung lidah, yang tak juga bisa diucapkan. Lidahku seolah mengingat sesuatu yang tidak diingat kepalaku dan entah kenapa sesaat aku merasa ingin sekali menangis.

Sebisa mungkin kutepis semua perasaan itu dan berharap  ia tak menyadarinya.

"Boleh aku bertanya sesuatu?" kataku akhirnya.

"Kau sudah bertanya sejak tadi. Lewat matamu."

"Orang-orang bilang kau menyimpan sesuatu di kamarmu."

Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Bukan marah. Bukan takut. Sesuatu yang lebih menyerupai kelegaan, seperti orang yang sudah lama menunggu ditanya.

Ia berdiri. "Kau mau lihat?"

Kamarnya di bagian belakang rumah. Untuk sampai ke sana, kami melewati dapur yang baunya menusuk dan melewati lorong pendek yang gelap meski hari masih sore. Ranti berjalan di depan tanpa menyalakan lampu, seolah ia hafal setiap jengkal rumahnya meski dalam keadaan gelap.

Ia membuka pintu kamar. Saat aku melihat isi di dalamnya, aku terkejut bukan main. Dinding kamar itu penuh. Penuh dengan nama.

Untuk sesaat, aku seperti merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Seolah aku pernah berdiri di ambang pintu ini, dengan korek di tangan, dengan jantung yang berdebar persis seperti ini. Perasaan itu datang dan pergi secepat kilat.

Ratusan nama, mungkin lebih. Ditulis dengan berbagai cara. Ada yang dengan pensil, tinta, arang, dan ini yang membuat perutku dingin, tampaknya digores dengan benda tajam, dalam sampai ke bata di balik cat, huruf-hurufnya menganga seperti luka yang tak mau menutup.

Nama-nama itu menutupi keempat dinding. Dari lantai sampai langit-langit. Bahkan di bagian yang sulit dijangkau, di sudut dekat plafon, masih ada nama-nama kecil yang berdesakan.

"Ini semua…" Suaraku tercekat.

"Mantan-mantanku," katanya. Suaranya datar, seperti sedang menyebutkan daftar belanja. "Setiap laki-laki yang pernah bersamaku, kucatat di sini. Supaya aku tidak lupa."

"Kamu… mencintai mereka semua?"

Ia menatapku lama. "Mencintai adalah kata yang terlalu mewah. Aku hanya menyimpan mereka. Ada bedanya."

Aku mendekati salah satu dinding. Membaca nama-nama itu satu per satu, seperti orang membaca nisan di pemakaman. Beberapa nama asing. Beberapa membuat dadaku berdenyut aneh, seolah aku pernah mengucapkannya, meski aku yakin belum pernah mendengarnya seumur hidup. Namun, ketika beberapa nama lainnya, aku mendadak gugup. Warsito.

Aku mengenal nama itu. Warsito, kawan lamaku. Katanya ia pergi jauh tahun lalu untuk bekerja di perkebunan sawit. Kami dulu sering memancing bersama. Ia menghilang begitu saja. Tak ada kabar. Ibunya sampai sekarang masih menunggunya pulang setiap lebaran.

"Kau kenal dia?" tanya Ranti, mengikuti arah tatapan mataku.

"Warsito kawanku."

"Oh." Ia mengangguk pelan. "Laki-laki yang baik. Ia suka menyanyi. Suaranya jelek, tapi ia tidak tahu diri, terus saja menyanyi."

Aku memandangnya. "Dia mendadak pindah."

Ranti tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, dan senyum itu membuat bulu tengkukku berdiri.

Kami kembali ke ruang tamu. Teh di cangkirku sudah dingin. Aku tidak menyentuhnya lagi.

"Ceritakan," kataku. "Ceritakan tentang mereka."

Ranti menyandarkan tubuhnya ke kursi. Di luar, hujan mulai turun lagi. Suara airnya menutupi keheningan di antara kami.

"Aku menulis nama pertama waktu umurku tujuh belas," katanya. "Namanya Kus. Anak tetangga. Kami saling suka, seperti anak muda biasa. Lalu ia pergi. Menikahi perempuan lain yang dipilihkan orangtuanya. Aku menangis berhari-hari. Sampai suatu malam aku sadar, air mata tidak menyimpan apa-apa. Air mata menguap. Hilang. Aku butuh cara agar tidak kehilangan."

Ia menuang teh lagi untuk dirinya sendiri.

"Maka aku tulis namanya di dinding. Dengan pensil. Aneh sekali, begitu namanya ada di sana, aku merasa ia tidak benar-benar pergi. Ia tetap di kamarku. Tetap bersamaku. Setiap malam sebelum tidur, aku bisa membaca namanya. Aku bisa bilang selamat malam."

"Itu… menyedihkan," kataku.

"Semua cinta menyedihkan kalau kau melihatnya dari dekat," jawabnya. "Yang membuat kita tahan hanya jarak."

"Lalu yang lain?"

"Yang lain datang satu-satu. Ada yang bertahan sebulan. Ada yang setahun, tapi mereka semua sama. Pada akhirnya, mereka pergi." Ia mengangkat cangkir, tapi tidak meminumnya. "Kau tahu apa yang paling menyakitkan dari ditinggalkan? Bukan kesepiannya. Tapi perasaan bahwa kau tidak cukup. Bahwa selalu ada yang kurang dari dirimu, yang membuat orang lain memutuskan bahwa kau tidak layak untuk ditinggali."

Suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang retak.

 "Maka aku memutuskan," lanjutnya, "Bahwa aku tidak akan pernah lagi ditinggalkan. Tidak akan pernah lagi merasakan pintu yang ditutup dari luar, langkah kaki yang menjauh." Ia menoleh padaku. "Aku yang akan menentukan kapan mereka pergi dan bagaimana mereka harus pergi."

Aku menelan ludah. "Apa maksudmu?"

"Kau sudah membaca dindingnya," katanya. "Kau lihat sendiri. Ada nama yang ditulis dengan pensil. Ada yang dengan pisau."

"Lalu?"

"Yang dengan pensil, aku biarkan pergi. Aku masih menyayangi mereka. Aku relakan." Ia menaruh cangkirnya. Bunyi gelas beradu meja terdengar terlalu keras di ruangan sunyi itu. "Yang dengan pisau… tidak kubiarkan pergi ke mana-mana."

Aku harus mengatakan sesuatu. Aku harus tertawa dan bilang bahwa ini lelucon yang buruk. Aku harus berdiri, berpamitan, pulang, dan tidak pernah kembali. Tapi tubuhku tidak bergerak. Ada sesuatu dalam cara ia bicara—tenang, tanpa penyesalan, tanpa dramatisasi yang membuatku percaya setiap katanya.

"Warsito," kataku pelan. "Ditulis dengan apa?"

Ranti memandangku dengan mata yang teduh, hampir keibuan.

"Kau benar-benar ingin tahu?"

Aku tidak menjawab. Tapi kakiku sudah bergerak sendiri, kembali ke lorong, kembali ke kamar. Ranti tidak menghentikanku. Ia hanya mengikuti dari belakang, langkahnya pelan, seperti orang yang tahu bahwa tidak ada yang perlu diburu-buru.

Aku menyalakan korek. Mencari nama itu di dinding. Warsito. Digores dengan pisau. Dalam. Sampai ke bata.

Kakiku lemas. Aku bersandar ke dinding dan tanganku menyentuh nama-nama itu, nama-nama yang dingin dan kasar dan basah oleh lembap kamar. Aku merasa seolah menyentuh kulit orang-orang mati.

"Kamu…" Suaraku nyaris tak keluar. "Kamu bunuh mereka?"

"Bunuh adalah kata yang buruk," kata Ranti dari ambang pintu. Cahaya dari lorong membuat siluetnya gelap, wajahnya tak terlihat. "Aku hanya membuat mereka tinggal. Selamanya. Bukankah itu yang diinginkan setiap orang yang mencintai? Agar yang dicintai tidak pergi?"

"Kamu gila."

"Mungkin." Ia melangkah masuk. "Tapi aku tidak pernah lagi kesepian. Setiap malam, kamar ini penuh. Mereka semua di sini. Warsito menyanyi dengan suaranya yang jelek. Kus menceritakan lelucon lama. Yang lain-lain juga. Mereka menemaniku. Mereka tidak akan pernah pergi." Ia tersenyum. "Kamu tahu betapa tenangnya tidur di ruangan yang penuh dengan orang yang tidak bisa meninggalkanmu?"

Korek di tanganku padam. Kegelapan menelan kami.

Aku harus lari. Aku tahu aku harus lari. Tapi lorong itu gelap, dan Ranti berdiri di antara aku dan pintu.

"Di mana mereka?" tanyaku, mencoba mengulur waktu, mencoba menemukan celah. "Mayat-mayat itu. Di mana kau simpan?"

"Kamu menginjaknya," katanya lembut.

Aku membeku.

"Kebun singkong di depan rumah. Kenapa menurutmu singkongnya tumbuh subur padahal tak pernah kurawat?" Aku bisa mendengar senyum dalam suaranya. "Tanah butuh makan, seperti kita semua."

Aku menyalakan korek lagi dengan tangan bergetar. Ranti sudah lebih dekat. Wajahnya, dalam cahaya kecil yang bergoyang, tampak tenang. Damai. Seperti orang yang sudah lama berdamai dengan dirinya.

"Kenapa kamu ceritakan semua ini padaku?" tanyaku. "Kamu tidak takut aku lapor?"

"Lapor pada siapa?" Ia tertawa kecil, suara yang hampir merdu. "Lagi pula…" ia berhenti, memandangku dengan tersenyum, "Kamu  tidak akan sempat."

Saat itulah aku melihatnya. Di sudut dinding, dekat lantai, di bawah semua nama-nama lama. Sebuah nama. Aku membungkuk untuk membacanya, meski aku sudah tahu. Suatu bagian dari diriku, sejak aku melangkah masuk ke rumah ini, sudah tahu nama siapa yang akan kutemukan di sana. Itu namaku.

Aku menunggu tintanya berkilat basah di cahaya korek, tapi tidak ada. Namaku tidak basah, justru seperti sudah mengering lama. Goresannya dalam, sedalam nama Warsito, sedalam nama-nama yang digores dengan pisau. Catnya sudah mengelupas di tepi huruf-hurufnya. Lumut tipis tumbuh di lekuk huruf terakhir. Nama itu sudah lama ada di sana. Bertahun-tahun, mungkin.

Aku menoleh pada Ranti. "Ini tidak mungkin."

Ia tidak menjawab. Ia hanya memandangku dengan mata yang teduh, hampir keibuan, seperti orang tua yang menanti cucunya menyadari sesuatu yang sudah lama ia ketahui.

"Aku baru pertama kali ke sini," kataku. Suaraku terlalu keras di kamar yang sempit itu. "Aku baru mengenalmu saat ini. Aku belum pernah…"

"Semua orang bilang begitu," katanya lembut. "Setiap kali."

Korek di tanganku bergetar. Aku mendekatkan apinya ke dinding. Sekarang aku melihat namaku tidak hanya sekali di sana. Ia ada di sudut itu, kering dan tua. Ia ada juga di dinding sebelah, setengah tertutup nama lain, sedikit lebih muda. Ia ada di dekat plafon, kecil, ditulis dengan tangan yang ragu, seperti tulisan anak sekolah. Ia ada di mana-mana. Namaku, berulang-ulang, dari yang paling pudar sampai yang paling baru di dekat pintu. Tintanya masih basah. Berkilat.

"Berapa kali," bisikku. Aku tidak sanggup menyelesaikan pertanyaan itu.

"Aku berhenti menghitung," kata Ranti. "Setelah beberapa waktu, angka tidak lagi berarti. Bagiku, yang berarti hanya bahwa kamu selalu kembali. Itu yang membuatku tenang." Ia melangkah masuk, dan cahaya dari lorong menelan siluetnya. "Lainnya hanya sekali. Warsito sekali. Kus sekali. Aku catat mereka, dan mereka tinggal dan itu cukup. Tapi kamu berbeda. Kamu tidak mau tinggal. Setiap kali kucatat, kamu selalu menemukan jalan keluar. Lalu kamu lupa. Lalu kamu kembali, penasaran, seperti pertama kali. Bertanya-tanya tentang perempuan di ujung gang. Dan kamu datang lagi. Selalu datang lagi."

"Kamu bohong."

"Aku tidak pernah bohong padamu," katanya.  Anehnya, aku percaya. "Kamu yang selalu lupa. Itu bukan salahmu. Mungkin memang begitu caranya. Mungkin ada orang yang ditakdirkan untuk terus kembali ke pintu yang sama, mengetuk dengan tangan yang sama, menanyakan hal yang sama tanpa pernah ingat bahwa mereka sudah bertanya, sudah tahu, sudah pergi, sudah kembali."

Aku mundur. Punggungku menyentuh dinding dan kurasakan nama-namaku sendiri di kulit punggungku, dingin dan kasar dan basah. Ratusan aku. Ratusan malam seperti ini. Ratusan korek yang menyala, ratusan pertanyaan yang sama, ratusan kali aku berdiri di sini dan mengira ini pertama kalinya.

"Kalau aku selalu kembali," kataku, dan suaraku sudah tidak seperti suaraku, "kenapa aku tidak pernah ingat?"

Ranti tersenyum. Senyum yang sampai ke matanya. Senyum paling sabar yang pernah kulihat.

"Karena kalau kamu ingat," katanya, "kamu tidak akan datang lagi dan aku tidak sanggup kehilanganmu untuk selamanya. Jadi setiap kali kau hampir mati, sebelum matamu benar-benar tertutup, aku bisikkan satu hal ke telingamu. Aku suruh kamu lupa. Aku suruh kamu pulang, hidup, menua sedikit, lalu suatu hari mendengar kembali gosip tentang perempuan di ujung gang." Ia mengangkat tangannya, dan aku melihat pisau kecil di sana, berkilat, sudah menghitam di gagangnya karena terlalu sering dipakai. "Lalu kamu datang. Kita mulai lagi dari awal. Teh yang pahit. Dinding. Pertanyaan-pertanyaanmu. Semuanya, dari awal, seperti pertama kali."

Kakiku berat. Aku mengira sejak tadi itu hanya rasa takut. Aku selalu mengira begitu. Setiap kali.

"Teh itu," bisikku.

"Ya," katanya lembut. "Sudah waktunya."

Aku merosot ke lantai. Punggungku menggesek dinding, dan aku bisa mendengar atau aku mengira aku mendengar suara pensil dan pisau dan arang, ratusan goresan namaku sendiri, bergesekan dengan bajuku seperti bisikan. Menyambut. Bukan menyambutku pulang. Menyambutku kembali.

Ranti berlutut di sampingku. Tangannya yang dingin menyentuh pipiku.

"Jangan takut," bisiknya. "Kamu sudah melewati ini banyak sekali. Tidak akan sakit. Kamu akan tidur, dan aku akan menggores namamu sekali lagi, di tempat yang masih kosong,  tinggal sedikit tempat yang kosong. Besok pagi kamu akan bangun di rumahmu sendiri, dengan kepala yang berat dan mimpi yang tidak bisa kamu ingat. Kamu akan hidup. Kamu akan lupa. Suatu hari nanti, kamu akan mendengar orang-orang berbisik tentang seorang perempuan di ujung gang."

Pandanganku mulai berpendar. Wajah Ranti mengabur, lalu jernih, lalu mengabur lagi.

"Sampai kapan," kataku. Lidahku hampir tak menurut. "Sampai kapan aku terus kembali."

 Ia memandang dinding di atas kami. Dinding yang penuh, hampir penuh, hanya tinggal satu-dua petak kecil yang belum tergores namaku.

"Sampai tidak ada lagi tempat," katanya pelan. "Sampai dinding ini penuh sepenuh-penuhnya. Lalu aku tidak akan menyuruhmu lupa lagi. Aku akan biarkan kamu ingat semuanya. Semua malam, semua teh, semua kali kamu mati di kamar ini." Ia mencium keningku, lama, seperti seorang ibu. "Saat itu, kamu akan tinggal untuk selamanya. Karena kamu tidak akan punya tempat lain untuk pergi selain ke dalam ingatanmu sendiri dan aku ada di sana, di setiap sudutnya."

Hal terakhir yang kulihat sebelum gelap menelan segalanya adalah tangannya terangkat ke dinding, pisau kecil itu mencari petak kosong yang tersisa dan mulai menggores. Dalam. Sampai ke bata.

***

Aku bangun di kamarku sendiri, dengan kepala yang berat dan mulut yang pahit, seperti habis minum teh yang tidak disaring. Di luar, hujan sudah berhenti. Entah sudah berapa hari.

Aku tidak ingat apa-apa. Hanya ada sesuatu yang mengganjal, jauh di dasar kepala, seperti nama yang berada di ujung lidah dan tidak mau keluar. Aku mencoba mengingat. Tidak bisa. Kubiarkan saja. Orang bilang aku memang sering begitu, suka melamun, suka lupa, suka menghilang beberapa hari lalu pulang tanpa bisa menjelaskan ke mana.

Siang tadi, di warung, aku mendengar orang-orang berbisik. Tentang seorang perempuan yang tinggal sendiri di ujung gang. Katanya, perempuan itu terlalu cantik untuk setia. Katanya, perempuan itu terkutuk. Katanya, laki-laki yang dekat dengannya selalu berakhir buruk.

Aku tidak percaya pada gosip. Aku percaya pada mataku sendiri.

Entah kenapa, aku merasa ingin sekali membuktikannya. Entah kenapa pula, mulutku terasa pahit, pahit yang menunggu, seperti nama yang tak juga bisa kuucapkan.

Mungkin besok aku akan ke sana. [ ]

Kategori Terkait: Cerpen

💬 Kolom Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar