LITERASI - karamunting.com

Sisa Hari Penulis Sunyi

👤

Harie Insani Putra

Juli 03, 2026
Cerpen Sisa Hari Penulis Sunyi Harie Insani Putra

Kantor itu tak bernama. Hanya sekeping kode QR ditempel pada pintu kaca buram di lantai tiga sebuah ruko tua. Di dalam, tak ada wangi cengkih atau debu arsip kuno, hanya dengung mesin server yang dingin dan aroma antiseptik yang menusuk rongga hidung.

Laksita duduk menghadap perempuan berambut pangkas cepak dengan setelan jas abu-abu tanpa kerah. Di dadanya, sebuah lencana perak memantulkan cahaya lampu neon. Kalinda – Kurator Memori.

"Pembersihan total, 2020 hingga 2026?" tanya Kalinda. Jemarinya menari di atas papan ketik virtual yang melayang, tanpa suara.

"Ya," jawab Laksita. "Lenyapkan semua. Artikel opini yang pernah viral, debat kusir di linimasa, esai sastra yang menahbiskanku sebagai cendikiawan muda terbaik. Cabut semuanya tanpa tersisa."

Kalinda berhenti mengetik. Matanya sedingin layar monitor. " Menghapus jejak digital di biro kami bukan sekadar mencabut tautan atau menutup akun. Kami juga membersihkan sisa rasa. Algoritma kami bekerja dua arah, menghapus di ruang digital dan di sinapsis otak setiap manusia yang pernah membaca tulisan Anda."

Laksita mengangguk lambat. Ia sudah mafhum konsekuensinya. "Saya sudah merasa lelah. Di internet, manusia dilarang tumbuh Tulisan-tulisan itu awalnya saya buat untuk mengubah dunia, tapi dunia justru menggunakannya untuk menghakimi saya. Setiap kali saya berubah pikiran, internet menolak memaafkan.."

Kalinda tersenyum. "Manusia hari ini sungguh aneh. Dulu mereka takut dilupakan, kini mereka rela membayar mahal untuk bisa dilupakan." Ia mengetuk layar. “Baik, harganya adalah gagasan orisinal Terakhir Anda."

Laksita tercekat. "Maksud Anda?"

"Kami tidak menerima uang untuk paket ini," Kalinda memutar layarnya. Di sana, grafik saraf Laksita berdenyut lembut. " Sebagai gantinya, kami mengambil ide terbaik yang sedang mengendap di kepala Anda. Ide yang belum sempat Anda tuliskan atau ceritakan kepada siapa pun. Kami menjualnya ke studio film atau penulis lain untuk membiayai operasional mesin kami."

Di dalam kepala Laksita, sebuah konsep novel memang sedang matang. Cerita yang ia yakini akan menjadi magnum opus, plot yang ia simpan rapat-rapat selama dua tahun terakhir, dijaga seperti bara dalam sekam. Sebuah mahakarya yang ia yakini akan abadi.

"Jika Anda mengambilnya, apakah saya masih bisa menulisnya nanti?"

"Tidak," jawab Kalinda dingin. "Mesin kami menyedotnya hingga ke akar saraf. Anda bahkan tak akan ingat pernah memilikinya. Adil, bukan? Anda menghapus masa lalu yang membebani, dan menyerahkan masa depan yang belum pasti."

Laksita menatap ke luar jendela. Di bawah sana, kota tampak seperti sirkus yang bising dan melelahkan. Ia mendambakan keheningan tanpa bayang-bayang ekspektasi orang yang bahkan tidak pernah ia temui.

"Lakukan."

 Kalinda memasangkan sepasang katoda perak di pelipis Laksita. Mesin mendengung lebih keras, seperti lebah raksasa yang terbangun dari tidur panjang. Sensasi yang ia rasakan seperti air es yang disuntikkan langsung ke tulang tengkorak. Perlahan, bayangan artikel-artikel lamanya memudar, pujian di kolom komentar luruh, makian para kritikus runtuh. Semuanya ambruk seperti istana pasir yang diterjang pasang.

Bersamaan dengan itu, kilasan plot novel yang ia banggakan ikut tercerabut dari akarnya, meninggalkan ruang hampa yang berdengung pelan di balik tulang pelipisnya.

Tiga menit dan segalanya selesai.

Laksita berkedip. Kepalanya terasa seringan kapas yang ditiup angin. Ia tak lagi ingat apa yang pernah ia tulis, dan anehnya, ia tidak peduli.

"Pembersihan sukses," kata Kalinda sambil merapikan peralatan. "Anda sekarang adalah halaman kosong."

Laksita melangkah keluar ruko. Di trotoar yang berdebu, ia merasakan dorongan purba seorang pencipta. Di dalam dadanya ia merasakan dorongan yang familiar, sisa-sisa kegairahan seorang pencipta, seperti arang yang masih menyimpan jejak panas meski apinya sudah padam. Ia ingin menulis. Tangannya meraba kantong, mengeluarkan secarik kertas dan pulpen. Namun, begitu ujung pena menyentuh kertas, tangannya kaku.

Kepalanya terlalu bersih. Bukan bersih seperti kanvas yang menunggu sapuan kuas pertama, melainkan bersih seperti ruangan steril yang telah dibunuh dari segala bentuk kehidupan. Ia tidak hanya kehilangan ego masa lalu dan ide novelnya. Ia kehilangan kemampuan untuk memiliki pendapat. Ia tidak bisa lagi menyukai atau membenci. Tidak bisa lagi gelisah terhadap dunia. Otaknya adalah gawai yang baru disetel ulang ke pengaturan pabrik, menyala tanpa rasa.

Di sekelilingnya, orang-orang berjalan tergesa dengan mata tertunduk pada layar masing-masing. Mereka mengernyit membaca berita politik, tertawa melihat video jenaka, mengetik komentar dengan jari-jari penuh amarah. Mereka hidup dalam riak-riak opini yang tak henti bergelombang.

Sementara Laksita berdiri di tengah trotoar seperti penonton bioskop yang proyektornya mendadak mati. Layar putih. Sunyi. Rata.

Ia mencoba memaksa otaknya bekerja. Ia melihat sepasang kekasih yang tengah bertengkar hebat di halte bus. Dahulu, kepalanya akan langsung memproduksi dialog sinis tentang distopia romansa urban. Kini? Ia hanya melihat dua orang yang membuang energi. Tidak ada empati. Tidak ada kesal. Tidak ada makna. Tak ada rasa iba dan amarah.

Laksita berbalik. Ia berlari menaiki tangga ruko, mendobrak pintu kaca buram tanpa mengetuk.

Kalinda sedang mengemas tablet grafis ke dalam tas kerja ketika Laksita muncul di ambang pintu, napas memburu.

"Ada yang tertinggal?" tanya Kalinda heran.

"Kembalikan," bisik Laksita, suaranya parau. "Kembalikan kepala saya yang dulu."

Kalinda bersedekap. "Aku pikir kamu ingin ingin bebas dari penghakiman dunia?"

"Tapi tidak begini!" Laksita memukul pelipisnya sendiri. "Saya tidak bisa merasakan apa-apa. Saya melihat ketidakadilan dan saya tidak marah. Saya melihat keindahan dan saya tidak takjub. Saya tidak bisa menulis jika kepala saya setenang kuburan!"

Kalinda melangkah mendekat, matanya menatap tajam. "Anda harus paham satu hal tentang arsitektur kesadaran modern," ujarnya pelan. "Opini dan kegelisahan bukanlah bunga yang tumbuh mandiri di kepala Anda. Mereka adalah luka hasil gesekan antara ego Anda dengan dunia luar. Ketika kami menghapus ego dan rekam jejak Anda, kami mencabut kapasitas Anda untuk terluka. Anda sekarang adalah manusia tanpa resistensi."

"Itu bukan kedamaian, Kalinda. Itu mati suri. Ambil apa saja, tapi kembalikan kegelisahan saya."

Kalinda menghela napas, kembali ke mejanya dan menyalakan monitor virtual. "Membatalkan proses berarti melakukan system restore. Semua tulisan Anda yang dihujat, semua opini mentah yang membuat Anda terjaga semalaman, semuanya akan diunduh kembali ke otak Anda dan internet sekaligus. Anda akan kembali dibenci."

"Tolong," kata Laksita, dan kata itu terasa berat di lidahnya. "Batalkan prosesnya. Ambil apa saja. Tapi kembalikan kegelisahan saya."

"Pembatalan berarti pemulihan sistem. Semua jejak digital, tulisan yang dihujat, opini mentah yang membuat Anda tidak bisa tidur, semuanya akan diunduh kembali ke otak Anda dan internet sekaligus. Anda akan kembali dibenci."

"Saya tidak peduli." Laksita menelan ludah. "Lebih baik dibenci karena punya isi kepala daripada dicintai karena menjadi wadah kosong."

Kalinda menatapnya cukup lama, mencari keraguan di mata Laksita seperti seseorang yang mencari retakan di permukaan keramik. Ia tidak menemukannya.

"Baik. Tapi ada biaya pemulihan," kata Kalinda. "Karena Anda tidak lagi memiliki gagasan untuk ditukarkan, Maka kami harus mengambil sesuatu yang bersifat fisik dari masa depan Anda."

"Apa?"

"Setiap kali Anda menyelesaikan sebuah karya yang lahir dari kegelisahan, satu hari dari sisa umur Anda akan terpotong. Otomatis. Tanpa negosiasi. Anda akan kembali menjadi penulis yang tajam dan emosional, tapi hidup Anda akan bergerak lebih cepat menuju garis akhir. Bagaimana?"

Laksita terdiam. Ia melihat pulpen di tangannya—benda mati yang beberapa menit lalu kehilangan jiwa. Ia membayangkan hidup hingga usia delapan puluh tahun sebagai manusia hambar, lalu membandingkannya dengan hidup yang lebih pendek tapi setiap detiknya menyala—terbakar oleh api penciptaan.

Bagi seorang penulis, pilihan itu tidak pernah sulit. "Pasang alatnya," kata Laksita. "Saya ingin pulang ke dalam bisingnya kepalaku."

Kalinda menekan Enter.

Sensasi dingin yang tadi menenangkan berubah menjadi sengatan panas, seperti air raksa mendidih yang dipaksakan masuk melewati setiap pori tulang tengkorak. Laksita mencengkeram lengan kursi hingga buku-buku jarinya memutih.

Badai itu datang lagi. Ribuan komentar jahat, tangkapan layar cemoohan, rasa cemas yang mencekik dada, dan cinta yang patah, semuanya menghantam sinapsis sarafnya sekaligus seperti air bah yang menjebol bendungan. Jantungnya berdegup liar, keringat dingin membasahi kerah kemeja.

Napasnya memburu saat katoda dilepas. Laksita membuka mata. Terengah-engah seperti orang yang baru ditarik dari dasar kolam. Matanya merah, basah oleh air mata, namun binar kehidupan menyala di sana. Kepalanya kembali menjadi sarang lebah yang berdengung riuh.

"Bagaimana rasanya kembali semula?" tanya Kalinda datar.

Laksita menyeka keringat di dahinya, "Sangat menyakitkan. Dan saya merindukan rasa sakit ini."

Ia melangkah keluar tanpa mengucapkan terima kasih. Saat melewati koridor ruko, sebuah jam digital di dinding berkedip. Detiknya berjalan maju. Laksita merasakan sendi-sendinya mendadak linu, seolah fisiknya baru saja menua beberapa jam dalam satu kedipan. Kontrak telah aktif. Sisa umurnya kini resmi menjadi bahan bakar bagi setiap kalimat yang akan ia lahirkan.

Di trotoar yang bising dan penuh asap, kota tidak lagi tampak hitam-putih. Ia melihat kemacetan, polusi, gawai-gawai di tangan orang-orang adalah sebagai distopia yang megah. Amarah kembali membakar dadanya, memicu imajinasi yang liar.

Laksita duduk di beton pembatas jalan. Ia mengeluarkan pulpen dan secarik kertas. Debu jalanan mengotori celananya. Ia tidak peduli. Tangannya tidak lagi gemetar. Dengan gerakan cepat dan penuh gairah, ia menekan ujung pulpen ke permukaan kertas dan menuliskan baris pertama dari hidup barunya:

"Aku menyerahkan keabadian kepada mesin, lalu memilih mati perlahan demi secangkir kegelisahan."

Satu hari dari umurnya baru saja terbakar habis. Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Laksita merasa benar-benar hidup. []

Kategori Terkait: Cerpen

💬 Kolom Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar